Perjuangan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said Melawan VOC

Kerajaan Mataram merupakan kerajaan yang dikenal sebagai kerajaan terbesar di Jawa pada masanya. Di Mataram dikenal sebuah tradisi yaitu "Sabda pandhita ratu datan kena wola-wali" yang berarti perkataan raja tidak boleh ingkar.

Hai, jumpa lagi sama Dewa Waktu. Pada pembahasan kali ini Dewa Waktu akan menjelaskan tentang perjuangan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said dalam melakukan perlawanan terhadap VOC.
Gambar Perjuangan Mataram Melawan VOC

Pada uraian sebelumnya, tepatnya pada perjuangan Mataram melawan VOC yang dipimpin oleh Sultan Agung sudah dijelaskan bahwa raja-raja setelah beliau sangatlah lemah. Pada masa pemerintahan Pakubuwana II, Mataram dikuasai oleh VOC. Hal ini karena beliau sangatlah rapuh, bahkan beliau malah menjalin hubungan baik dengan VOC.

Hubungan antara Pakubuwana II dengan VOC ini membuat para bangsawan kerajaan sangat kecewa. Hal ini karena VOC banyak melakukan intervensi terhadap pemerintahan Pakubuwana II. Oleh karena itu timbul berbagai perlawanan, salah satunya perlawanan Raden Mas Said.

Raden Mas Said merupakan putera dari Raden Mas Riya yang bergelar Adipati Arya Mangkunegara dengan Raden Ayu Wulan Putri dari Adipati Blitar. Raden Mas Said sudah diangkat menjadi gandek kraton atau pegawai rendahan di kraton sejak usianya masih 14 tahun. Karena merasa dirinya sudah berpengalaman, Raden Mas Said mengajukan diri untuk dinaikkan pangkatnya. Namun harapannya tidak direspons positif oleh keluarga kepatihan. Raden Mas Said justru dihina dan dituduh ikut terlibat dalam tragedi geger pacinan. Karena sakit hati, akhirnya Raden Mas Said memutuskan untuk meninggalkan kerajaan bersama R. Sutawijaya dan Suradiwangsa.

Raden Mas Said pergi ke Nglaroh dan mencoba mengumpulan kekuatan. Oleh para pengikutnya, Raden Mas Said diangkat menjadi raja baru dengan gelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Senopati Sudibyaning Prang atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Perlawanan Raden Mas Said cukup kuat dan dianggap ancaman yang serius bagi Pakubuwana II. Oleh karena itu Pakubuwana II pada tahun 1745 mengeluarkan sayembara bahwa siapapun yang berhasil mematahkan perlawanan Raden Mas Said akan diberi hadiah tanah di Sukowati atau Sragen sekarang. Namun hal tersebut tidak dipedulikan oleh Raden Mas Said.

Kerajaan Mataram merupakan kerajaan yang dikenal sebagai kerajaan terbesar di Jawa pada masanya. Di Mataram dikenal sebuah tradisi yaitu "Sabda pandhita ratu datan kena wola-wali" yang berarti perkataan raja tidak boleh ingkar. Mendengar sayembara ini, Pangeran Mangkubumi yang merupakan adik dari Pakubuwana II tertarik untuk membuktikan kebenaran dari perkataan kakaknya. Pangeran Mangkubumi dan para pengikutnya berhasil meredam perlawanan Raden Mas Said namun Pakubuwana justru ingkar janji. Bahkan dalam pertemuan terbuka di istana, Gubernur Jenderal van Imhoff menghina Pangeran Mangkubumi dan menuduhnya terlalu ambisius terhadap kekuasaan. Hal ini membuat Pangeran Mangkubumi marah dan memutuskan untuk meninggalkan kakaknya.

Pangeran Mangkubumi segera bertemu Raden Mas Said dan menjalin kesepakatan untuk melawan VOC dan Pakubuwana II. Pangeran Mangkubumi juga menjadikan Raden Mas Said sebagai menantunya. Mereka juga sepakat untuk membagi wilayah perlawanan. Pangeran Mangkubumi melakukan perlawanan di bagian barat Surakarta ke barat dengan pusat Hutan Beringin dan Desa Pacetokan, dekat Pleret. Sementara itu Raden Mas Said bergerak di bagian timur, Surakarta ke selata, Madiun, Ponorogo, dan pusatnya di Sukowati. Perlawanan ini melibatkan lebih dari 13.000 prajurit termasuk 2.500 prajurit cavaleri.

Pada tahun 1749, saat perang sedang berkecamuk di berbagai daerah, terdengar berita tentang Pakubuwana II yang jatuh sakit. Dalam keadaannya yang sakit, Pakubuwana II dipaksa VOC untuk menandatangani sebuah perjanjian yang sangat mengecewakan seluruh bangsawan dan rakyat Mataram. Perjanjian tersebut ditandatangi oleh Pakubuwana II dan Gubernur Baron van Hohendorff pada tanggal 11 Desember 1749. Sementara itu isi perjanjiannya sebagai berikut.


  1. Susuhunan Pakubuwana II menyerahkan Kerajaan Mataram baik secara de facto maupun de jure kepada VOC.
  2. Hanya keturunan Pakubuwana II yang berhak naik tahta, dan akan dinobatkan oleh VOC sebagai raja Mataram dengan tanah Mataram sebagai pinjaman dari VOC.
  3. Putera mahkota akan segera dinobatkan.


Sembilan hari setelah penandatanganan perjanjian tersebut, Pakubuwana II wafat. Kemudian pada tanggal 15 Desember 1749 VOC mengumumkan pengangkatan putera mahkota menjadi Susuhunan Pakubuwana III. Tentu saja hal ini membuat seluruh warga Mataram terpukul. Mengapa? Karena pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram menentang keras dan memberikan perlawanan tinggi terhadap VOC. 

Karena merasa perjanjian tersebut menjadi aib bagi Mataram, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said segera meningkatkan perlawanannya. Perlawanan Pangeran Mangkubumi berakhir setelah perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Isi pokok perjanjian tersebut yaitu dibaginya Mataram menjadi dua wilayah. Wilayah barat yaitu Yogyakarta di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengkubuwana I sedangkan wilayah timur yaitu Surakarta tetap dipimpin Pakubuwana III. Sementara itu perlawanan Raden Mas Said berakhir setelah perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757 yang isinya Raden Mas Said ikut berkuasa di Surakarta dengan gelar Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I.

Nah, panjang juga ya perlawanan kedua bangsawan ini. Perlawanan mereka berlangsung kurang lebih selama 20 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya VOC menghadapi mereka berdua. Meskipun perjuangan mereka berlangsung selama 20 tahun, tapi Dewa Waktu kasih penjelasannya tidak sampai 10 menit lo. Oleh karena itu, jangan lupa share ketemen-temen biar pada tau ok...

COMMENTS

BLOGGER: 12
Loading...
Nama

Biografi,3,Lain-Lain,8,Mitologi,1,Sejarah,20,
ltr
item
Dewa Waktu: Perjuangan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said Melawan VOC
Perjuangan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said Melawan VOC
Kerajaan Mataram merupakan kerajaan yang dikenal sebagai kerajaan terbesar di Jawa pada masanya. Di Mataram dikenal sebuah tradisi yaitu "Sabda pandhita ratu datan kena wola-wali" yang berarti perkataan raja tidak boleh ingkar.
https://1.bp.blogspot.com/-Y4FkeyMm3-Q/WWba3thLvZI/AAAAAAAAAOE/LmFey74hpAMzmpA71xDM7BZ_NdAgsP0IgCLcBGAs/s640/mangkubumi.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Y4FkeyMm3-Q/WWba3thLvZI/AAAAAAAAAOE/LmFey74hpAMzmpA71xDM7BZ_NdAgsP0IgCLcBGAs/s72-c/mangkubumi.jpg
Dewa Waktu
https://www.gebraknusantara.com/2017/06/perjuangan-pangeran-mangkubumi-dan.html
https://www.gebraknusantara.com/
https://www.gebraknusantara.com/
https://www.gebraknusantara.com/2017/06/perjuangan-pangeran-mangkubumi-dan.html
true
765967344446276724
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy